
“Hanya orang gila yang bekerja sesuai dengan kesenangannya”.
Sore ini redup, mendung membentang sepanjang hari. Di sebagian kecil jagad ruang yg dimilikinya, saya duduk bersama kawan, berhadapan, membincangkan segala hal, dari ingatan yang membekas, trauma masa kecil, hingga para penyembah alam dan kehidupan.
Kami berbicara banyak hal, tapi potret itu tak jauh dari aktivitasnya, sebagai penulis, pembaca dan orang yang suka mengamati berbagai hal-hal di sekelilingnya. Itu, perspektifku tentangnya.
“… menulis itu butuh kegilaan,” katanya setelah ku ceritakan orang-orang yang ku pikir tulisan bagus, tapi memilih redup. Ia melanjutkan dengan tatapan serius menuju bola mataku, “Bagaimana mungkin orang mau serius menjalani tahapan menulis tapi ga ada uangnya. Mending bisnis rokok ilegal.”
Aku tersenyum dengan kalimatnya. Bagiku ia seperti sedang melakukan pengakuan sebagai salah satu ‘orang gila’ yang dimaksudnya. Dia adalah seorang yang menulis banyak buku, mendapat berbagai penghargaan karena buku-bukunya.
Siapa yang bekerja atas dasar kesenangannya. Ku pikir sangat sedikit, hanya orang-orang gila. Semisal pesepak bola profesional, Sadio Mane butuh lari dari kampung agar mengejar impian. Cristiano Ronaldo pun harus bertarung bebas dengan alat-alat berat di gym agar tetap berada di pilihannya. Mereka adalah orang yang cukup gila ku pikir, sangat gila untuk bekerja dengan kecintaannya.
Aku mulai mengingat banyak wajah yang ku kenal. Orang-orang yang membenci suatu pekerjaan tapi memilih bertahan dengan pekerjaannya. Seorang penggerak literasi, pendukung Abah Anis, tiba-tiba terdaftar sebagai kepala dapur makan bergizi. “Kita hidup harus adaptif. Tak peduli dimana tempatnya, asal nilai-nilai kita tetap hidup,” demikian kalimatnya saat ingatkan segala kritikannya pada masa pilpres.
Kalimat itu mirip dengan petuah kiai-kiai Madura di mimbar ceramah. “Oreng odhi’ kodhuh dheddi juko’ odhi’. Mekeh badha neng tase’, nginum aing tase’, tape tak accen”. (Orang hidup harus jadi seperti ikan yang hidup. Meski hidup di laut, minum air laut tapi tidak pernah asin, Madura: red).
Dunia kerja yang terus mendistorsi cara kita hidup, berjalan sepanjang waktu. Di masa kecil kita sering membayangkan apa yang akan dikerjakan di masa dewasa, menjadi dokter, pesepak bola, pembalap, atau bahkan pengusaha kaya raya. Kita berharap aktivitas itu lah yang akan menjadi pasion kita di masa dewasa. Tapi, semua harus kandas dihadapan realitas yang lebih garang dari penguji skripsi. Kadang ia berwujud tetangga yang bertanya penghasilan, pacar yg terus membandingkan income, atau menjelma ibu yang gelisah akan harga cabai. Seringkali kita takluk, tak cukup gila menjawab semua ujiannya. Tak senekat Mane, atau setangguh Ronaldo.
Barangkali benar bahwa butuh kegilaan agar bisa bekerja atas hal yang kita suka. Bukan semata mencari benar, dengan memoles kata-kata petuah. Menyandarkan diri pada kalimat, ‘jangan berkerja atas apa yang kau cinta, tapi cintailah pekerjaanmu, maka kau akan mendulang kesuksesan’.
Butuh orang gila, yang tak lagi menimang harga dari orang lain. Penjadi penulis pun demikan. Tapi, dari orang gila lah kita menemukan mutiara. “Mutiara itu berwujud tetralogi Pram atau laut bercerita S. Chudori,” katanya.
