Dipikiran saya, kalau belajar tinggi-tinggi, mau jadi apapun akan lebih mudah. Makanya, itu jadi modal saya nekat lanjut S2, menepis segala kekhawatiran akan masa depan.
Tapi ternyata, hidup di negara +62 tidak semudah itu. Apa yang ada di pikiran, tak seperti ending FTV-nya yang mudah ditebak. Saya malah terjebak pada soal-soal pencarian kerja yang tak ada jawaban.
Padahal sebelum pulang kampung, saya sudah nyiapin modal agar lebih ‘dipertimbangkan’ di dunia kerja. Mulai dari ngumpulin berbagai pengalaman di tanah rantau, hingga maksain diri ngejar prestasi lulus dengan kumlod.
Kerja yang Harus Ada Lowongan
Di kampung, saya mengunjungi beberapa sekolah di kabupaten. Berharap map berisi ijazah dan berpuluh lembar sertifikat prestasi, bisa ngebantu ‘meyakinkan’.
Tapi, harapan sering memberi fakta berlawanan. Apa yang saya siapkan ternyata tidak berpengaruh apa-apa. Penolakan demi penolakan harus saya terima. Alasannya hampir semua sama, “disini guru mapel itu sudah ada”, atau “sudah tidak bisa nerima guru honorer”.
Dari sini saya mulai sadar. Bahkan, untuk jadi guru honorer, dengan gaji “sabar” pun susahnya setengah mati.
Kesana kemari-kemari nyari kerja dan ditolak itu capek. Ditambah map prestasi yang saya bawa, tak banyak membantu. Bahkan, map yang awalnya ku banggakan, ternyata banyak yang tidak mau membukanya.
Upaya yang saya lakukan jauh dari harapan. Sisa pilihan terakhir yang masih perlu dicoba, yakni nyari ‘sosok’ yang bisa membantu. Berharap jalinan silaturrahim yang kita lakukan mempermulus jalan.
Dihadapannya, saya mulai cerita yang saya alami, terutama capeknya nyari kerja. Ia mendengarkan dengan senyum-senyum kecil. saat ia mulai mengangguk-ngangguk, pikiran saya pun mulai menebak jawabannya, “ini, bisa diatur”. Sayangnya, pikiran saya tidak pandai dalam mengira-ngira, jawaban yang saya terima kembali berbeda. “Kamu kan cuma beberapa bulan. Aku dulu…”
Jika awalannya sudah ngadu nasib begini, endingnya sangat mudah ditebak, “Sabaar”.
Bertani Tak Dipercaya
Awalnya, saya cuma nganter ibu ke ladang, lama-lama kasian panas-panasan sendiri, lalu saya mulai bantu-bantu. Kerja yang diharap tak kunjung dapat, akhirnya memilih menggarap sawah.
Saya mulai nyari potensi yang bisa dilakukan. Berharap bisa membawa kebaruan dalam komoditas tanaman untuk petani.
Hari-hari saya habiskan dengan skrol-skrol hal-hal tentang pertanian, mulai dari cara bertani hingga pilihan tanaman. Aktivitas ini sebagai pengganti mondar-mandir nyari kerja
Sayangnya, ide yang saya ajukan belum cukup untuk menjadi solusi. Pilihan-pilihan tanaman hasil riset mini, urung pada pertanyaan, “hasilnya mau dikemakan?” sebagai orang baru, saya jelas tidak punya jawaban.
Fakta bahwa tak nemu jalan penjualan ini lah menjadi pelajaran awal bagi saya di pertanian. Niat membawa pembaruan pun ga jadi. Solusinya berujung pada, nanam yang biasa ditanam orang. Itu adalah jalan paling aman.
Hari-hari bertani dimulai. Ibu adalah guru sekaligus teman diskusi. Saya cukup kritis terhadap hal-hal yang ia lakukan. Ibu pun juga sering menyalahkan apa yang saya kerjakan. Tak jarang kami berdebat.
Perdebatan itu selalu saja berakhir dengan, “aku sudah puluhan tahun bertani”. Fakta yang menjadi pelajaran kedua saya, bahwa title yang dimiliki sering menganggap remeh pengetahuan lokal. Padahal keduanya memiliki latar logisnya sendiri.
Prestasi jadi Beban
Setalah sekian bulan bertani, ternyata aktivitas ini adalah hal yang menyenangkan. Melihat bibit yang ditanam mulai tumbuh, berkembang hingga berbuah, bikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya, setelah sekian tahun hidup, saya bisa menikmati jerih usaha sendiri. Ini karena sebelumnya saya hanya sekolah, sekolah dan sekolah terus. Butuh kesabaran dan nunggu bertahun-tahun untuk menikmati hasilnya.
Sayangnya, masalah ketiga pun muncul. Ternyata, bertitle S2 di kampung memang dianggap ‘waw’. Tapi, langsung jatuh ketika mendengar rasan-rasan, “katanya S2, kok bertani”.
Dan, itu menjadi pelajaran ketiga. Susahnya memiliki title di Indonesia bukan hanya karena jelimetnya lapangan kerja, tapi juga harus terbebani oleh pendidikan yang terlalu memberi harapan tinggi pada orang-orang.
Ilustrator: Mohammad Faiq
