Dari Gagal Move On, Hingga Menemukan Jawaban

“Kamu kenapa ikut Sambang Sekolah ini?” tanya seorang relawan di pertemuan pertama, sambil menatapku dengan tatapan penuh ekspektasi. Seolah ia mengharapkan jawaban yang inspiratif, penuh idealisme, atau setidaknya terdengar mulia.
Aku terdiam sejenak. Mencari kata-kata yang tepat. Atau lebih tepatnya, mencari kebohongan yang cukup meyakinkan.
Tapi akhirnya aku nyerah, memilih jawaban paling jujur. “Gabut, sih.”
Hening sesaat. Lalu tawa pecah. Beberapa orang mengangguk, seolah paham. Yang lain hanya tersenyum, mungkin mengira aku bercanda.
Padahal aku serius. Sangat serius.
Aku gabung Sambang Sekolah 6 Compok Literasi bukan karena suka beliterasi. Bukan karena hobi membaca. Bahkan baca pesan grup WhatsApp pun aku sering males. Aku bergabung karena gabut total. Karena kerjaan yang stuck di situ-situ aja. Karena hari-hariku terasa monoton dan kosong.
Dan alasan absudr lainnya—aku gabung karena gagal move on dari mantan.
Iya, kamu tidak salah baca. Patah hati. Tampak memalukan dan Konyol. Tapi itulah kenyataannya.
Rasanya tiap orang, memang memiliki berbagai cara aneh untuk mengisi kekosongan. Ketika kehilangan datang, entah itu kehilangan seseorang yang kita cintai, kehilangan harapan, atau kehilangan versi diri kita yang dulu kita kenal. Kita berupaya mencari cara untuk menambal lubang itu. Kadang dengan kesibukan. Kadang dengan orang baru. Kadang dengan hal-hal yang bahkan tidak kita pahami sepenuhnya.
Kupikir waktu itu, Compok Literasi adalah tambal sulam itu.
Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Mungkin sekadar distraksi. Mungkin pelarian. Atau mungkin, tanpa kusadari, aku sedang mencari sesuatu yang lebih besar dari sekadar mengisi waktu luang.
Di awal, semuanya terasa ringan. Bahkan menyenangkan.
Dengan keyakinan penuh, rasanya ku akan berkomitmen penuh. “Aku bakal ikut dari episode pertama sampai terakhir,” seolah aku tahu persis apa yang akan terjadi ke depannya.
Episode pertama dan kedua berjalan lancar. Aku datang tepat waktu. Mengikuti semua kegiatan. Bahkan cukup aktif dalam diskusi.
Tapi kehidupan tidak pernah berjalan sesuai rencana.
Memasuki episode ketiga, kenyataan mulai menghantam. Pekerjaan tiba-tiba menumpuk. Deadline berdatangan seperti ombak yang tidak pernah berhenti. Waktu menjadi terbatas. Tenaga terkuras, Mulai Terjadi berbagai drama yang tak pernah aku bayangkan senelumnya. Dan yang paling buruk, keyakinanku mulai goyah & fikiranku mulai berantakan.
Di suatu malam, aku menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya.
“Ngapain sih aku di sini?”
“Ngapain aku buang-buang waktu, tenaga, pikiran buat orang-orang yang bahkan baru kenal beberapa hari?”
“Emang aku yakin bisa berdampak baik? Atau jangan-jangan ini cuma buang-buang waktu?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar. Kadang membuat kesal. Kadang membuat sedih. Kadang membuat ingin menyerah.
Aku sempat merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa komitmen seperti yang kujanjikan. Bersalah karena merasa tidak sempurna. Bersalah karena kadang-kadang aku tidak yakin apa yang sebenarnya kulakukan di sini.
Tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang sederhana: tidak ada yang sempurna. Termasuk aku. Termasuk semua orang di sini.
Yang akhirnya aku sadari, kesempurnaan itu hadir saat ada penerimaan. Sehingga dalam proses bersosial, pasti ada drama. Pasti ada keterbatasan. Pasti ada momen di mana kita merasa tidak cukup.
Titik Balik & Titik Temu
Kalau ditanya apa yang paling berkesan dari Sambang Sekolah, jawabannya sederhana: mereka. Adik-adik MTS yang tanpa sadar mengisi ruang kosong yang bahkan tidak kuketahui ada.
Ya Allah, jadi sedih kalau ingat mereka. Kangen banget.
Mereka mengajarkan banyak hal. Teramat banyak. Bahkan hal-hal yang tidak penting—seperti tren TikTok terbaru, lagu-lagu yang lagi hits, gossip artis yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam.
Mereka mengajarkanku tentang ketulusan. Tentang semangat yang tidak pernah padam meski hidup penuh keterbatasan. Tentang tawa yang tulus tanpa beban. Dan yang paling penting, mereka menyadarkanku bahwa aku harus terus bertumbuh menjadi versi terbaikku.
Meski yang perlu digaris bawahi disini, tentu sangat sulit untuk menjadi baik apalagi menjadi panutan mereka. Aku bukan malaikat. Aku punya banyak kekurangan. Banyak sisi buruk yang bahkan aku sendiri tidak terima.
Tapi di depan mereka, aku berusaha keras. Mungkin munafik. Mungkin dibuat-buat. Tapi aku tidak peduli.
Yang terpenting tujuanku jelas, aku ingin mereka melihat sesuatu yang baik dariku. Gapapa deh tidak baik di depan relawan lain. Gapapa deh kadang berantem dengan teman sesama relawan. Asal aku baik di mata mereka.
Dan entah kenapa, usaha untuk menjadi lebih baik di depan mereka justru perlahan-lahan membuatkan merasa beberapa bagian dalam diriku.

Ada satu momen yang tidak pernah kulupakan.
Saat itu, salah satu adik bertanya padaku dengan polos, “Mbak, nanti kalau udah selesai, Mbak masih bakal datang lagi, nggak?”
Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Insya Allah,” jawabku akhirnya, sambil tersenyum. Meski dalam hati, aku tahu jawabannya tidak sesederhana itu.
Kehilangan tidak hanya tentang kepergian. Kadang kehilangan adalah tentang pertemuan yang terlalu singkat. Tentang hubungan yang harus berakhir sebelum sempat benar-benar dimulai. Tentang orang-orang yang kita temui sebentar, tapi meninggalkan jejak yang begitu dalam.
Dan di situ, aku mulai memahami sesuatu, kehilangan adalah bagian dari hidup. Tidak peduli seberapa keras kita berusaha menghindarinya, kehilangan akan selalu datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar menerimanya, dan membawa pelajaran dari setiap kepergian.
Sebuah Refeleksi, Akhir Perjalanan
Setelah semua episode selesai, aku mencoba merefleksikan apa yang sebenarnya kudapat dari Compok Literasi.
Jawabannya lebih banyak dari yang kukira.
Aku belajar mengendalikan diri jadi lebih baik. Belajar sabar. Belajar tidak gampang emosi. Belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.
Aku belajar mengisi waktu luang dengan hal yang produktif. Daripada di rumah tenggelam dalam pikiran yang tidak sehat, lebih baik keluar dan melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Aku belajar berkomitmen dan bertanggung jawab. Meski tidak sempurna, setidaknya aku berusaha. Belajar untuk bertahan meski sulit.
Aku bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Yang suka membaca, yang punya wawasan luas, yang berpikir dengan cara berbeda. Dan dari mereka, aku belajar banyak hal yang tidak pernah kutahu sebelumnya.
Dan yang paling penting, dari titik ini aku mulai belajar move on.
Bukan dengan cara yang dramatis. Bukan dengan momen pencerahan besar. Tapi dengan cara yang perlahan, sedikit demi sedikit. Dengan kesibukan baru. Dengan fokus baru. Dengan orang-orang baru yang membuat hidup terasa lebih berwarna.
“Jadi, kamu udah move on belum?” tanya seorang teman di akhir program, dengan nada setengah bercanda.
Aku terdiam. Mencari jawaban yang tepat.
“Pokoknya,” jawabku akhirnya, sambil tersenyum kecil.
Iya, pokoknya.
Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan kata-kata apa. Yang jelas, aku merasa diriku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku sudah tidak tenggelam dalam kesedihan yang tidak jelas ujungnya. Aku sudah tidak terpaku di tempat yang sama.
Aku bergerak.
Mungkin belum sepenuhnya lepas. Mungkin masih ada sedikit bekas luka yang kadang-kadang masih menganga, terasa. Tapi setidaknya, aku sudah bisa tertawa lagi. Aku sudah bisa menikmati hari-hari tanpa harus terus-menerus memikirkan masa lalu.
Dan itu sudah cukup bagiku.
Catatan Kecil : Buat kamu yang juga lagi gabut atau lagi gagal move on, coba deh ikut kegiatan relawan. Siapa tahu kamu juga menemukan jawaban yang kamu cari. Atau setidaknya, kamu tidak sendirian dalam kebingunganmu.
Ditulis oleh: Fitri Annisa Hatta | Aku Anis dari Kowel, Pamekasan. Makhluk yang hidupnya berjalan dengan tenaga kopi dan kegelisahan yang produktif. Aku tidak bisa diam meski energiku terbatas, paradoks berjalan yang entah bagaimana tetap berfungsi.