Lebih Dari Malam Seribu Bulan yang Sia-Sia

Lebih Dari Malam Seribu Bulan yang Sia-Sia

An aurora accents Earth's atmospheric glow underneath a starry sky

Sembari mengangkat gelas seloki dengan tangan kanannya, diputarnya ke kiri dan kanan gelas berisi Vodka murahan yang ia pesan malam itu. Dengan wajah yang mulai memerah dan mata nanar ia terus mengamati remang cahaya warna warni dari lampu diskotik yang tembus dibalik gelas kaca yang ia angkat sedari tadi.

Lalu tatapannya kosong, riuh ruang yang pengap dengan musik jedag-jedug picisan yang diputar berdasarkan playlist tren tiktok terkini dan teriakan puluhan manusia di kiri kananya, seperti sama sekali tak menembus telinganya. Ia terus diresapi sepi yang menyelinap secara paksa dalam dadanya.

Lelaki paruh baya itu seperti tak lagi tahu cara menghalaunya, entah pada tegukan seloki yang keberapa. Dan seberapa banyak malam yang dihabiskan di tempat riuh itu, tak mampu membuat kesepian dalam dirinya bergeming.

Ia kemudian memejamkan mata, berusaha merangkai serpihan masa lalu. Ia terlempar pada ingatan masa kecilnya, sebab dulu—malam Ramadhan seperti ini ia habiskan bersama teman-temannya di sebuah surau ringkih dengan dinding dari anyaman bambu yang tampak dimakan zaman.

Di tempat sederhana itu, dusun Nangkernang, Karanggayam. Kehangatan justru terpancar dari lingkaran anak-anak yang duduk bersila di atas tikar pandan lusuh. Satu per satu, suara mereka silih berganti menderas ayat-ayat Al-Qur’an dengan pengeras suara, riuhnya surau bercampur dengan aroma manis kolak pisang yang mengepul dari mangkuk tembikar, serta berbagai hidangan lainnya yang dihadiahi jamaah shalat tarawih surau itu.

Tapi sekelibat kehangatan itu justru membuatnya makin gusar. Ingatan kelam yang berusaha ia tenggelamkan kembali menyeruak, tentang kobaran kobaran api, teriakan warga “Mereka membawa laknat tuhan! Syiah Sialan! Ahlul bid’ah, Fin Naar! Bakar!”

Pembantaian itu berlangsung dalam semalam. Manusia-manusia yang mengaku beragama dan mengabdi pada Tuhan, malam itu menjadi bringas dan kehilangan akal. Sejumlah jamaah lari tunggang-langgang. Namun sial, orang tuanya tak sempat menyelamatkan diri, menjadi korban yang tak terelakkan dari peristiwa pembantain malam itu oleh sekelompok massa anti-Syiah ke permukiman warga Syiah di Desa tersebut.

Sejak malam itu, dunia serasa runtuh baginya. Di usianya yang masih belia, ia menyaksikan orang tuanya dibantai orang-orang yang mengaku beragama, yang berteriak-teriak “Allahuakbar!” membela Tuhan dengan api dan amarah. Ia tak tahu lagi bagaimana mempercayai sesuatu, saat Dia yang Mahabesar membiarkan semua itu terjadi di depan matanya.

Anak muda itu hidup sebatang kara, hingga seorang kerabat jauh dari ibu kota menawarkan diri merawatnya. Keluarga itu menjanjikan masa depan cerah, bahwa dengan suara merdu, paras tampan dan perawakan idealnya, ia bisa jadi artis kondang ibu kota.

Namun nasib naas kembali menghantamnya lebih kejam. Dia malah dijerumuskan dalam bisnis terlarang keluarga itu. Secara paksa ia ditawarkan pada lelaki-lelaki bejat yang ingin memuaskan hasrat menyimpang mereka. Di usia remaja yang rapuh, tanpa siapa pun yang melindungi, tanpa tahu bagaimana bertahan di rimba raya ibu kota, tentu ia tak bisa berkutik.

Kekerasan demi kekerasan menghujam tubuh dan jiwanya, merenggut apa yang tersisa dari masa mudanya. Ia mulai menutup diri untuk percaya pada tuhan, ceramah-ceramah tiap minggu yang ia dengar dari pengeras suara itu terasa memuakkan baginya. Bahkan ketika ia mulai beranjak dewasa, dan bisa terbebas dari lubang hitam yang menjebaknya, ia muak dengan segala bentuk kepercayaan.

Ironisnya, justru setelah bertahun-tahun hidup sial yang dijalani, pada suatu malam ia bermimpi aneh. Sebuah cahaya melintasi langit, dan berhenti tepat diatas kepalanya. Lalu cahaya itu menetes tepat di kedua matanya, persis seperti tetesan sisa air hujan pada dedaunan.

Ia dianugrahi kemampuan yang tak pernah ia minta: ia selalu tahu kapan Lailatul Qadar datang. Setiap kali waktu itu datang, tanda-tandanya selalu jelas, bisa amati dan ia rasakan. Hal itu menjadi kengerian tersendiri baginya. Saat jiawanya retak dan telah kelam. Seolah Tuhan datang dengan tanda maaf yang remeh dan tak ia inginkan. Ia murka dan membrontak atas takdir hidupnya, yang baginya begitu mudah sekali tuhan permainkan.

“Hai, Zafran! Mematung lagi aja nih!”

Laki itu tersentak. Suara yang tiba-tiba muncul tepat di telinga kirinya, disusul sentuhan tangan di pundak kanannya membuyarkan lamunannya. Wanita bertubuh sintal, dengan pakai terbuka mengusiknya. Ia berdiri di sampingnya, senyum menggoda terpasang di wajahnya yang diterangi lampu neon berwarna ungu kemerahan.

Tapi Zafran hanya menatapnya datar, seperti melihat tembok. Tanpa sepatah kata, tangannya bergerak refleks menyapu tangan wanita itu dari pundaknya. “Gue lagi pengen sendiri!” ucapnya tegas, namun suaranya nyaris tenggelam dalam dentuman musik.

Wanita itu terdiam sesaat, senyumnya meluntur. Dan Zafran sudah kembali menikmati minumannya yang sedari tadi ia genggam. Mimik wajahnya nanar dan tampak kesal, jengah atau mungkin sekadar ingin dunia berhenti sejenak mengganggunya. Dan hanya ketenangan yang ingin ia jumpai.

Namun harapan itu sia-sia sebab kehadiran wanita penggoda itu, “Eh, lu nggak bosen apa? Terkenal punya julukan hantu penunggu pojokan diskotik ini?” Nada wanita itu berupaya lebih manja.

Tangannya kembali nakal, kali ini mengelus pipi Zafran. Dan melanjutkan tawarannya, “Mending lu temenin gua aja lah, ke belakang…”

Zafran menatapnya sekilas, lalu menggeleng pelan. “Lu ngeselin banget sih. Ganggu orang bersemedi,” jawabnya dengan suara serak, tubuh lunglai, dan mata memandang tak tentu arah, seolah dunia berputar bersamanya.

Sejurus dengan itu, Zafran berusaha bangkit dengan sempoyongan. Kakinya berat, pandangannya kabur. Ia melangkah keluar dari bar diskotik itu, disambut udara malam yang begitu menusuk. Jalanan begitu sepi. Hanya satu-dua kendaraan sesekali melintas, menyibak keheningan dengan deru mesin yang sejenak berlalu. Zafran tak menyadari sudah berjam-jam ia duduk termangu di tempat hiburan malam itu.

Ia menyusuri trotoar, lalu berbelok masuk gang-gang perkampungan. Jalanan menanjak—kosannya memang berada di bagian tinggi kota. Setiap langkahnya terasa berat, napasnya pendek-pendek. Ia melewati pos kamling yang menjadi penanda bahwa tempat tinggalnya sudah dekat. Tapi tubuhnya tak sanggup lagi.

Tepat di depan pos satpam perumahan yang tak jauh dari gang tempat ia tinggal, kakinya limbung. Ia terjatuh, lututnya membentur aspal. Ketika berusaha bangkit, perutnya mulas hebat. Ia muntah, cairan asam bercampur alkohol membasahi tanah di bawahnya, bau menyengat memenuhi udara malam.

***

Satpam yang sedang setengah tertidur di pos langsung tersentak oleh dentuman keras. Di sibaknya sekitar, pandangannya berhenti di bawah lampu jalan yang redup, ia melihat sosok pemuda yang meringkuk. Dengan tergesa ia bangkit menghampiri. Bau alkohol dan muntahan menyengat hidungnya. Dengan muka masam, lebih dekat ia melihat pemuda yang sedang terbatuk-batuk, tangannya gemetar menyeka mulut.

“Bapak… bapak gak apa-apa?” Satpam itu berjongkok, mencoba membantu mengangkat tubuh yang lunglai itu.

Saat wajah pemuda itu terangkat, dengan pencahayaan yang seadanya, raut wajah satpam itu membeku, dan nafasnya berhenti sejenak. Mengingat-ingat wajah pemuda yang hendak ia tolong.

“Ehh… ini kamu, Zafran?!”

Suaranya bergetar, seperti tak percaya dengan keadaan yang ia temui. Ia menatap lebih dekat, memastikan. “Ya, ini dia!” gumamnya. Alis tebal, bentuk mata, bekas luka kecil di dagu, semua masih sama. Tapi zafran yang dulu ia kenal tampak lebih bersinar, namun kini begitu redup. Dan membuatnya begitu prihatin.

“Ya Allah… kok kamu jadi gini sekarang? Sebegitukah ibu kota merubahmu?”

Satpam itu namanya Ridwan, ia ingat betul. Zafran dulu adalah bocah kebanggaan kampung. Anak yang dikenal saleh, rajin dan paling mahir ngaji diantara anak-anak surau.

Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci sudah menjadi buah bibir. Tak heran dia pernah menjuarai lomba baca Al-Qur’an tingkat kabupaten Sampang. Hadiah piala besar yang ia dapatkan dari bupati menjadi perbincangan hangat warga selama satu minggu.

Lamunan Ridwan pecah saat Zafran merintih pelan, berusaha bangkit. Tangannya merengkuh pundak Ridwan, mencari pegangan.

“Pelan-pelan, Fran…” Ridwan menahan tubuhnya yang sempoyongan.

Zafran terduduk di pinggir trotoar, napasnya masih terengah. Kepalanya berat, pandangannya kabur. Ia menatap Ridwan sekilas—wajah itu napak tak asing, namun begitu kabur dalam ingatannya.

“Saya… saya tidak inget siapa anda,” ucapnya parau, dengan susah payah mengontrol diri ditengah mabuk beratnya, ia melanjutkan ucapannya “Tapi… makasih ya, udah nolongin saya.”

Ridwan hanya mengangguk miris, tak tahu harus berkata apa dan jua tak berusaha meyakinkan lagi, melihat kondisi pria yang tengah mabuk berat itu.

Zafran mencoba berdiri lagi, tapi kakinya lemas. Ia hampir jatuh, untungnya masih dalam jangkauan Ridwan. Napasnya tersengal, kepalanya terasa berat seperti dihantam godam, entah karena alkohol atau kelelahan jiwa yang sudah bertahun-tahun ia pendam.

Dan tiba-tiba saja ia merasakan perasaan aneh, yang memang ia sering rasakan dikala malam ganjil bulan ramadhan tiap tahunnya.

Angin berhembus melambat, saat melewati sela-sela dedaunan seakan tak mampu membuat daun-daun bergeming. Membuat udara malam itu terasa lebih sejuk dan menenangkan. Ada keheningan yang aneh, seolah dunia menahan napasnya.

Zafran mendongak. Langit malam yang tadinya gelap gulita, kini bak dipenuhi cahaya berkelipan, semakin dekat semakin berpendar. Tidak juga membuat terang seperti siang. Tapi ada kilau-kilau halus, seperti butiran cahaya kerubim keperakan yang turun perlahan dari langit.

Cahaya itu jatuh lembut, menyusup di antara genteng dan celah-celah kayu. Tak bersuara. Hanya bergerak seperti air yang mengalir ke tempat yang seharusnya.

Dengan termangu, Zafran terpukau. Mata yang tadinya sayu kini tampak berbinar. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut, tapi karena mengenali sesuatu yang sudah lama hampir ia lupakan.

“Pak” bisiknya gemetar. “Kam . . kamu lihat cahaya-cahaya itu tidak?”

Ridwan hanya mengerutkan dahi, mengikuti arah pandang Zafran ke langit. “Liat apaan mas?”

Tapi Zafran tak menjawab. Ia terus menatap. Cahaya-cahaya itu terus turun, bergantian menembus atap rumah orang-orang yang tampaknya dipilah pilih oleh cahaya kerub itu untuk disinggahi.

Sembari berkali-kali menepuk pundak Ridwan. Zafran menunjuk ke arah rumah seorang pemulung yang ia kenal disebrang jalan. Ridwan hanya celingak-celinguk kebingungan, namun tetap mengikuti arah pandang Zafran.

“Kamu lihat, bahkan cahaya itu tak segan masuk rumah reot itu!”, padahal disetangah sadarnya Zafran tahu, orang-orang sering memandang remeh penghuni rumah itu.

Lalu pandangan Zafran beralih pada rumah besar milik Haji Issam, yang dikenal orang-orang sebagai tokoh di lingkungan perumahan itu. Ia dikenal atas kekayaannya dan kabar angin yang mengatakan bahwa Haji Issam sering menafkahi para janda dilingkungannya. Bila ada sumbangan pembangunan masjid, maka selalu ada nama Issam di sana.

“Tapi aku heran pak, mengapa cahaya-cahaya itu tak ada yang bersedia singgah dirumah besar itu!”

“Cahaya apaan sih?”,

Ridwan masih tampak kebingungan. Lalu ia baru menyadari, bahwa didepannya adalah orang yang sedang mabuk berat dan hilang setengah kesadaranya.

Angin kembali berhembus. Kali ini membawa aroma kesturi. Samar, tapi jelas. Harumnya menenangkan, masih seperti aroma yang biasa Zafran hirup setiap tahunnya di kala malam berubah seperti malam ini. Namun masih sama seperti tahun sebelumnya, ia melewatkan malam ini dengan tanpa apa-apa.

Ini… Lailatul Qadar, Ini malam yang lebih baik dari seribu bulan pak!”

“Edan!” tukas Ridwan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *