Penjajahan Piring Makan

‘Ketahanan Pangan’, belakangan menjadi algoritma dalam sosial media saya. Berseliweran, hilir mudik disajikan dengan berbagai wajah. Saya tak pernah benar-benar tertarik, mungkin hanya tak sengaja mengetuk “suka” sekali.
“Peperangan piring dan sendok,” gerutu saya kesal ke teman. Saya nyinyir soal algoritma yang membosankan belakang ini. Membayangkan piring diserang dengan tahu, adalah hal lucu.
“Loh, piring kita emang di serang. Kamu pikir mendoan ini dari mana?” Ia menunjuk piring berisi mendoan–tempe berbalur terigu yang sedari tadi kami anggurin-sisa satu.
“Tepung terigu itu dari gandum. Emang di Indonesia ada yang nanam?” Lanjutnya.
“Roti, mie, geprek itu terigu semua, gandum semua. Sesekali tengok berita, liat perkembangan politik dunia,” jelasnya.
Saya hanya diam. Kalimatnya benar-benar tidak saya pahami. Belakangan ini, otak saya jauh dari soal-soal politik. Lebih sering terisi Stand-up komika lawas. Atau, Thomas Alva Edisound, ilmuwan penemu sound horeg. Jika pun soal politik, barangkali sebatas bendera kartun yang dicurigai mengancam sebuah bangsa.
Saya teringat laporan yang saya baca di buku ajar IPS kelas VII. Keluhan petani soal harga gabah murah, sedang di pasar, beras impor malah laris.
Saya sedikit sangsi. Ada perasaan, “emang iya?” Tapi background agribisnisnya, seperti memaksa untuk yakin. Kalimatnya sederhana, tetapi menyimpan fakta ironis bagi negeri kaya, makmur untuk sebagian orang.
Begitu pun seruan ibu, harga cabe, bawang dan telur yang mahal di pasar, sedang saat petani menjual, murah. Seruan itu sangat akrab terdengar di dapur atau saat ibu bersama tetangga. Tapi, saya tidak pernah tertarik untuk mengetahuinya.
Saya tak memaksa menjawab pertanyaan teman itu. Diam-diam saya juga sedang merasa bersalah. Sebagai anak petani, saya nyaris tidak tahu asal-muasal bahan makanan yang saya nikmati. Tidak ada rasa ingin tahu bahwa makanan di Indonesia, negeri yang kata buku pelajaran subur ini, justru berasal dari luar negeri.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang 2023 agak mencengangkan. Ternyata Indonesia mengimpor lebih dari dua juta ton beras, tiga juta ton gandum, dan hampir dua juta ton kedelai.
Ini bukan sekadar angka. Ini realitas bahwa sebagian besar makanan pokok kita datang dari tangan-tangan asing. Kita tidak lagi bertumpu pada hasil tanah sendiri. Barangkali, dapur kita sendiri hanya tempat, sedang isinya sudah dari negara entah berantah. Tak perlu menghitung alat di dalamnya, kulkas, lampu, kompar atau barang lainnya. Cukup liat isi piring makan kita.
Di sinilah saya mulai menyadari, ada bentuk penjajahan yang lebih halus, tetapi menyusup ke ruang paling privat dalam hidup kita, yakni meja makan. Penjajahan dari piring makan.
Ini, bukan kolonialisme bersenjata yang pernah kita alami. Kita tidak bertukar serang rudal, seperti negara timur tengah. Tetapi, penjajahan ini melalui cara halus, dengan sistem pangan global yang membungkus ketergantungan dengan dalih efisiensi, harga murah, dan gaya hidup.
Ketika anak-anak muda lebih senang upload ramen dan sushi daripada bakso atau sate, ketika roti isi daging impor lebih populer ketimbang lemper, maka yang terjadi bukan hanya perubahan selera, tetapi juga penggerusan identitas. Apalagi jika itu dilakukan oleh akun yang memiliki sekian digit followers.
Lebih gawat lagi, para petani yang seharusnya menjadi tumpuan kedaulatan pangan justru makin terpinggirkan. Akses pupuk susah. Harga jual tidak sebanding dengan biaya tanam. Sementara itu, pasar dan distribusi dikuasai tengkulak dan korporasi besar. Petani kita kalah bahkan sebelum panen–perang-dimulai.
Modern Diplomasi (2024) menyebut Indonesia sedang menghadapi ancaman krisis pangan tertinggi dibanding negara tetangga. Diantara penyebabnya, yaitu produksi pertanian yang belum maksimal dan ketergantungan pada bahan makanan impor, seperti gandum dan kedelai.
Jika beberapa negara mulai menghentikan ekspornya untuk menjaga stok pangan mereka sendiri, maka harga bahan makanan di Indonesia bisa naik tajam. Itu berarti, piring anak tetangga bisa semakin sulit mendapatkan makanan yang bergizi.
Di atas podium, Bung Karno pernah menyebut “Pangan adalah politik hidup-matinya sebuah bangsa.” Maka, persoalan piring ini bukan sekadar urusan kenyang. Ini bagian harga diri. Citra kebangsaan suatu negara. Hanya saja, jika perut kita masih bergantung pada kiriman luar negeri, mungkin kah kita bisa bicara soal ketahanan nasional?
Tentu tidak semua produk impor harus ditolak. Dunia memang sudah saling terhubung. Tapi yang menjadi masalah yaitu ketergantungan. Apalagi soal makanan. Ketergantungan hasil bumi negara lain–yang-ketika mereka enggan impor mengancam angka stunting meninggi.
Ketika kita lebih memercayai barang luar ketimbang hasil petani sendiri, tetangga sendiri. Ketika pasar lebih berpihak pada yang punya kekuatan distribusi besar, bukan pada petani kecil yang berkeringat di sawah-sawah kampung sekitar.
Piring makan adalah ruang politik kecil. Saat kita memilih membeli sayur dari pasar tradisional, bukan supermarket, kita sedang menjaga saudara sendiri. Saat kita mengenalkan anak-anak pada makanan lokal, bukan sekadar ikut trend luar, kita sedang menjaga budaya. Dan saat kita mendengar keluh petani di sosmed, lalu tidak buru-buru skrol, kita sedang melawan sistem yang pelan-pelan meminggirkan mereka.
Barangkali pilihan-pilihan kecil itulah yang membentuk wajah pangan kita hari ini. Dan nasib petani, bisa jadi ditentukan oleh siapa yang mau mengunyah hasil bumi mereka.
Jadi, mari kita mulai dari pertanyaan kecil, siapa yang akan mengisi piring kita?
