Menjelang Satu Dekade Compok Literasi, Membaca Diri Melampaui Masa Depan

Menjelang Satu Dekade Compok Literasi, Membaca Diri Melampaui Masa Depan

Kondisi literasi di Indonesia, khususnya di wilayah rural seperti Kabupaten Pamekasan, Madura, sering kali dipandang melalui kacamata statistik yang menunjukkan kesenjangan akses informasi dan infrastruktur pendidikan. Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat geliat komunitas akar rumput yang mencoba mendefinisikan ulang makna literasi dari sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis menjadi instrumen pemberdayaan sosial yang aplikatif. Salah satu entitas yang paling menonjol dalam upaya dekonstruksi paradigma ini adalah Komunitas Compok Literasi. Berbasis di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, komunitas ini merepresentasikan model inovasi sosial di mana kaum muda mengambil peran sebagai katalisator perubahan dalam menghadapi kebuntuan akses pendidikan formal.

Pada akhirnya, Compok Literasi adalah “rumah” di mana masa depan pendidikan Indonesia dirawat dengan penuh dedikasi, kolaborasi, dan harapan untuk selalu menjadi solusi bagi permasalahan umat.

Filosofi dasar yang diusung oleh Compok Literasi berakar pada identitas lokal Madura, di mana kata “Compok” yang berarti “Rumah” digunakan untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif, hangat, dan tidak mengancam bagi masyarakat desa. Sejak diinisiasi pada 10 November 2017 oleh M. Arinal H. Ghifari dan Jamilah, organisasi ini telah bertransformasi dari sebuah ruang koleksi buku pribadi menjadi sebuah platform kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan aspek pendidikan, sosial, dan pemberdayaan anak muda. Pendekatan ini selaras dengan visi pemerintah daerah yang ingin menjadikan Pamekasan sebagai “Kabupaten Literasi,” namun dengan keunggulan berupa kelenturan operasional yang tidak dimiliki oleh birokrasi formal.

Keberadaan Compok Literasi di wilayah pelosok memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan semangat belajar dan kesadaran diri masyarakat. Melalui berbagai program unggulan seperti Sambang Sekolah, Teman Literasi Sekolah dan inovasi Motor Listrik Pustaka (Moliska), komunitas ini berhasil menjawab tantangan keterbatasan akses geografis sambil mempromosikan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan. Dalam proses geraknya, Compok Literasi menunjukkan bahwa keberhasilan komunitas ini tidak hanya terletak pada distribusi buku, tetapi pada kemampuan manajerial mereka dalam mengelola aset relawan dan membangun narasi perubahan yang beresonansi dengan kebutuhan riil masyarakat desa.

Di mana pengetahuan mengalir secara cair melalui pertukaran pengalaman antar anggota.

Evolusi Sejarah dan Fondasi Filosofis Organisasi

Pembentukan Compok Literasi dipicu oleh keprihatinan para pendirinya terhadap fakta-fakta sosial di Pamekasan, seperti banyaknya komunitas literasi yang bergerak secara sporadis, minimnya wadah kontribusi bagi pemuda lokal, dan buruknya akses literasi di wilayah pedalaman. Keresahan ini kemudian dikonkretkan menjadi sebuah gerakan yang mengusung prinsip kolaborasi terbuka, baik dengan sesama komunitas, pihak swasta, maupun pemerintah. Visi untuk menjadi “rumah bagi pembelajar” mencerminkan upaya menciptakan ekosistem belajar yang tidak tersekat oleh dinding sekolah, di mana pengetahuan mengalir secara cair melalui pertukaran pengalaman antar anggota.

Seiring berjalannya waktu, Compok Literasi mengalami fase adaptasi yang krusial, terutama selama pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Pandemi ini mendorong organisasi untuk melakukan re-branding yang lebih masif, memperluas jangkauan dari sekadar penyedia buku menjadi penggerak pemberdayaan anak muda dan pemberi solusi masalah sosial. Perubahan ini sebagai bentuk untuk merespons dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Hingga tahun 2024, data menunjukkan bahwa keterdampakan program ini terus meningkat, dengan pembaruan per September 2024 mencatat ribuan penerima manfaat dan puluhan aksi kolaborasi yang tercipta.

Filosofi pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang diterapkan oleh Compok Literasi membedakannya dari gerakan literasi konvensional. Mereka tidak hanya melihat buku sebagai benda fisik, tetapi sebagai pemantik diskusi untuk menemukan solusi aplikatif. Hal ini tercermin dalam kegiatan mingguan seperti Klub Buku di area taman Arek Lancor dan tempat lainnya, di mana relawan dan masyarakat berkumpul untuk membedah gagas-gagasan dari buku dan mengontekstualisasikannya dengan permasalahan lokal. Ruang-ruang dialogis inilah yang kemudian membangun kesadaran kritis di tingkat akar rumput.

Manajemen Strategis dalam Pengelolaan Gerakan Literasi Berbasis Kerelawanan

Keberhasilan Compok Literasi dalam menjaga keberlangsungan programnya selama hampir satu dekade tidak terlepas dari penerapan prinsip-prinsip manajemen modern yang disesuaikan dengan konteks kerelawanan. Berdasarkan kerangka kerja manajemen George R. Terry yang meliputi perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (Actuating), dan pengawasan (Controlling), komunitas ini menunjukkan tingkat profesionalitas yang tinggi dalam setiap lini operasionalnya.

Perencanaan Berbasis Masalah dan Pemetaan Aset

Tahap perencanaan (Planning) di Compok Literasi dimulai dengan identifikasi masalah secara langsung di lapangan. Sebelum meluncurkan program tahunan seperti Sambang Sekolah, para relawan melakukan observasi dan wawancara mendalam untuk memahami kebutuhan spesifik sekolah target. Analisis kebutuhan ini memastikan bahwa solusi yang ditawarkan bersifat relevan dan tepat sasaran. Selain itu, komunitas melakukan pemetaan aset internal yang mencakup dana, fasilitas, serta kompetensi relawan, sehingga beban kerja yang disusun selaras dengan sumber daya yang tersedia.

Pemanfaatan teknologi digital juga sudah terintegrasi dalam proses perencanaan. Penggunaan platform kolaboratif seperti Google Sheets memungkinkan tim manajemen untuk memantau rencana kerja secara real-time, meminimalkan hambatan komunikasi antar relawan yang mungkin tersebar di lokasi berbeda. Perencanaan yang matang ini menjadi fondasi bagi terciptanya program-program yang tidak hanya kreatif tetapi juga berorientasi pada hasil yang terukur.

Pengorganisasian Struktur dan Pengembangan SDM

Dalam pengorganisasian (Organizing), Compok Literasi menerapkan pembagian peran yang jelas namun tetap fleksibel. Hirarki dalam organisasi ini lebih menghendaki istilah ekosistem dari pada istilah struktur organisasi, di mana secara mandatori kerjanya bersifat koordinatif dan menghindari model intruktif.

Gambaran Siklus Ekosistem Compok Literasi

Dengan posisi inti terdiri dari pendiri (founder), rekan pendiri (co-founder), relawan komite, dan relawan penggerak. Pembagian ini krusial untuk menjaga kelancaran koordinasi antara kebijakan strategis dan eksekusi teknis di lapangan. Setiap relawan ditempatkan berdasarkan minat dan potensi individu mereka, sebuah langkah yang dikenal sebagai pemetaan keterampilan (softskill mapping).

Pelaksanaan dan Strategi Komunikasi Kolaboratif

Pada tahap pelaksanaan (Actuating), Compok Literasi mengedepankan pendekatan yang menyenangkan namun tetap edukatif. Untuk program Sambang Sekolah, misalnya, relawan menggunakan metode Acvtive learning dan stimulasi kreatif untuk menarik minat siswa. Sebelum terjun ke lapangan, simulasi kegiatan selalu dilakukan Basic Training of Volunteer(BTOV) untuk memastikan setiap relawan memahami peran masing-masing dan siap menghadapi dinamika di lingkungan sekolah.

Strategi komunikasi yang digunakan sangat kolaboratif, melibatkan tokoh masyarakat, aparat desa, hingga organisasi keagamaan lokal untuk membangun kepercayaan publik. Di ranah digital, komunitas ini sangat aktif menggunakan Instagram (@compokliterasi) sebagai sarana sosialisasi yang informatif dan persuasif. Penggunaan narasi yang kuat dalam setiap unggahan membantu komunitas ini menarik perhatian mitra potensial dan relawan baru secara lebih luas.

Pengawasan dan Evaluasi Terukur

Pengawasan (Controlling) dilakukan secara berkala melalui monitoring pelaksanaan kegiatan dari awal hingga akhir program. Pada program Sambang Sekolah yang berlangsung selama 3-4 bulan, pertemuan evaluasi rutin diadakan setiap minggu untuk mendiskusikan kendala teknis dan perkembangan peserta didik. Pengawasan ini juga mencakup manajemen konflik, di mana founder dan co-founder berperan sebagai mediator jika terjadi perbedaan pendapat di internal tim.

Compok Literasi juga menunjukkan integritas yang kuat dalam menjaga nilai-nilai internalnya. Mereka berani mengambil keputusan strategis untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan pihak luar jika skema kemitraan yang ditawarkan tidak sejalan dengan budaya organisasi, prinsip kemandirian atau berpotensi menimbulkan konflik. Kedisiplinan dalam menerapkan fungsi kontrol inilah yang membuat Compok Literasi tetap eksis dan dipercaya oleh berbagai lembaga donor dan akademik hingga saat ini.

Peran Fasilitatif: Menghadirkan Solusi dan Aksesibilitas

Berdasarkan kerangka analisis teori Jim Ife, Compok Literasi menjalankan peran fasilitatif yang krusial dalam menunjang proses pengembangan masyarakat di Pamekasan. Peran ini tidak hanya terbatas pada penyediaan buku, tetapi mencakup fungsi sebagai pendukung sistem, mediator, dan penyedia sarana fisik yang menjawab kebutuhan nyata warga desa.

Inovasi Layanan Moliska (Motor Listrik Pustaka)

Salah satu terobosan paling progresif dalam peran fasilitatif ini adalah peluncuran Moliska pada 2 Mei 2023. Sebagai motor listrik pustaka pertama di Pulau Madura, Moliska merepresentasikan integrasi antara literasi, teknologi ramah lingkungan, dan mobilitas sosial. Proyek ini didukung oleh jejaring kemitraan yang luas, termasuk Pustaka Bergerak Indonesia, Kemendikbud RI, dan LPDP, yang menunjukkan pengakuan nasional terhadap inovasi dari tingkat desa ini.

Moliska berfungsi menjangkau wilayah pelosok yang memiliki akses bacaan sangat minim dengan frekuensi layanan setiap hari Minggu. Selain menyediakan buku, Moliska juga menjadi sarana kampanye pemanfaatan energi terbarukan di kalangan masyarakat desa. Dengan beralih dari bahan bakar fosil ke tenaga listrik, Compok Literasi memberikan edukasi praktis mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan generasi penerus.

Ruang Compok: Penyediaan Ruang Publik dan Pendampingan Sosial

Compok Literasi menyediakan Ruang Compok sebagai ruang fisik dan digital yang berfungsi sebagai wadah interaksi sosial. “Ruang Compok” di Desa Bangkes menjadi pusat kegiatan harian yang menyediakan akses bacaan bagi siswa MI Alfalah 2 dan masyarakat sekitar. Selain itu, komunitas ini mengorganisir program “Lapak Baca” di area terbuka untuk memperluas jangkauan layanan literasi kepada publik yang lebih luas.

Peran fasilitatif ini juga menyentuh aspek kesejahteraan sosial di luar dunia pendidikan. Komunitas ini tercatat memberikan dukungan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan, seperti bantuan biaya operasional untuk operasi mata bagi warga desa. Tindakan ini menegaskan posisi Compok Literasi sebagai komunitas sosial yang responsif terhadap permasalahan hidup yang paling mendasar, bukan sekadar organisasi hobi atau kelompok diskusi buku.

Mediasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Lokal

Dalam menjalankan programnya, Compok Literasi sering kali bertindak sebagai mediator yang menjembatani kepentingan berbagai pihak. Mereka melakukan negosiasi dengan kepala desa, tokoh agama, dan pihak sekolah untuk memastikan setiap kegiatan mendapatkan dukungan penuh dari pemangku kepentingan setempat. Kemampuan negosiasi ini sangat krusial dalam budaya masyarakat Madura yang sangat menghargai hierarki sosial dan otoritas tokoh lokal.

Selain itu, komunitas ini sangat mahir dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai sarana pembelajaran. Sebagai contoh, dalam beberapa aktivitas di sekolah, para relawan mengarahkan siswa untuk menggunakan tanah lempung yang tersedia melimpah di wilayah tersebut sebagai media berekspresi. Penggunaan sumber daya alam setempat ini tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga mengajarkan siswa untuk menghargai kekayaan lingkungan mereka sendiri sebagai sumber pengetahuan yang tidak ada habisnya.

Peran Edukatif: Transformasi Pedagogis di Tingkat Sekolah

Peran edukatif Compok Literasi diwujudkan melalui serangkaian inisiatif yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran masyarakat, baik di dalam maupun di luar institusi formal. Fokus utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan keterampilan non-teknis (soft skills) dan kapasitas intelektual melalui metode yang interaktif dan partisipatif.

Program Unggulan Sambang Sekolah

Sambang Sekolah merupakan program rutin tahunan yang menjadi identitas terkuat dari Compok Literasi. Dalam program ini, relawan mengunjungi sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA selama periode 3-4 bulan. Tujuan utamanya adalah untuk melihat secara langsung permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh siswa dan guru, kemudian merumuskan solusi berbasis permainan (game-based learning) yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Pendekatan ini sangat efektif dalam menghidupkan kembali semangat belajar yang sempat menurun, terutama pasca-pandemi COVID-19. Pihak sekolah, seperti MI Nurul Faizin, melaporkan adanya perubahan signifikan pada perilaku siswa; mereka menjadi lebih berani berbicara di depan kelas, semangat belajar baca-tulis meningkat, hingga mampu menghasilkan karya kreatif yang bernilai ekonomi. Keberhasilan Sambang Sekolah terletak pada kemampuannya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan tanpa menghilangkan nilai-nilai edukasi yang substantif.

Pelatihan Teknis dan Diseminasi Informasi

Compok Literasi juga menjalankan peran edukatif melalui penyelenggaraan pelatihan teknis bagi kelompok masyarakat tertentu. Beberapa inisiatif penting meliputi:

  • Pelatihan Pustakawan Sekolah: Program ini menyasar para pengelola perpustakaan di tingkat SMP dan SMA untuk meningkatkan kualitas manajemen koleksi dan layanan baca di sekolah-sekolah.
  • Workshop Kepenulisan: Memberikan pembekalan bagi pemuda dan anggota masyarakat untuk mengasah kemampuan menulis, yang merupakan puncak dari keterampilan literasi.
  • Teman Literasi Sekolah: Program kolaboratif dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan yang fokus pada pendampingan pengelolaan literasi di tingkat satuan pendidikan.

Melalui berbagai pelatihan ini, Compok Literasi berupaya meningkatkan standar kualitas pendidikan di Pamekasan secara sistematis. Mereka percaya bahwa literasi bukan hanya tentang konsumsi informasi, tetapi juga tentang produksi pengetahuan melalui tulisan dan karya-karya kreatif lainnya.

Edukasi Melalui Media Digital

Pemanfaatan media sosial sebagai alat edukasi publik menjadi bagian tak terpisahkan dari peran komunitas ini. Akun Instagram mereka sering kali mengunggah konten yang meningkatkan kesadaran mengenai isu-isu pendidikan kontemporer, tips literasi bagi orang tua, hingga esai reflektif dari para relawan. Dengan jangkauan digital yang luas, Compok Literasi berhasil mendiseminasikan nilai-nilai positif mereka ke luar batas geografis Desa Bangkes, memberikan inspirasi bagi penggerak literasi di daerah lain.

Secara kolektif, gerakan Compok Literasi berkontribusi pada pencapaian Kabupaten Pamekasan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Pamekasan tercatat masuk dalam enam besar daerah dengan IPLM tertinggi di Jawa Timur, sebuah prestasi yang mustahil diraih tanpa peran aktif komunitas literasi di tingkat akar rumput. Penghargaan-penghargaan yang diterima oleh Bupati Pamekasan dan Kepala Dinas Pendidikan di bidang literasi juga merupakan refleksi dari geliat gerakan literasi yang massif di wilayah “Gerbang Salam” ini.

Manajemen Relawan: Menjaga Semangat Perubahan

Sebagai komunitas berbasis kerelawanan, aset terpenting Compok Literasi adalah sumber daya manusianya. Mengelola relawan membutuhkan strategi khusus untuk menjaga konsistensi semangat dan meminimalisir risiko tingkat perputaran yang tinggi (turnover).

Tantangan utama dalam bekerja bersama relawan adalah menjaga konsistensi motivasi. Compok Literasi mengatasi hal ini dengan menerapkan kelincahan (agility) komunitas dan diskusi terbuka. Dalam setiap pertemuan, pengurus tidak hanya membahas target teknis, tetapi juga melakukan refleksi mengenai alasan dasar (purpose) mengapa mereka memilih untuk bergerak di bidang sosial.

Diskusi nilai-nilai dasar ini sangat penting untuk membangun ikatan emosional antar relawan dan rasa kepemilikan terhadap komunitas. Selain itu, pemberian tugas yang proporsional sesuai dengan potensi individu membantu relawan merasa dihargai dan berkembang secara personal, bukan sekadar menjadi “alat” pelaksanaan program.

Strategi Manajemen RelawanImplementasi PraktisDampak yang Diharapkan
BTOV (Training)Pelatihan visi dan teknis simulasi.Kesiapan mental dan teknis relawan di lapangan.
Softskill MappingPembagian tugas sesuai minat relawan.Peningkatan kepuasan dan produktivitas relawan.
Refleksi MotivasiDiskusi berkala mengenai alasan bergerak.Penjagaan konsistensi semangat jangka panjang.
Sistem Tawaran BalikOpsi lanjut/berhenti setelah program usai.Fleksibilitas bagi relawan muda (mahasiswa).

Sinergi Lintas Sektor dan Kemitraan Strategis

Kunci dari kelincahan Compok Literasi adalah kemampuannya dalam membangun jejaring kolaborasi dengan berbagai pihak. Sejak awal pendiriannya, organisasi ini memposisikan diri sebagai rekan kerja sama yang terbuka bagi siapa pun yang memiliki visi yang sama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui literasi.

Hubungan dengan Pemerintah Daerah

Compok Literasi memiliki hubungan yang sinergis dengan berbagai instansi di Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Beberapa mitra strategis utama meliputi:

  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip): Terlibat sebagai mitra kolaborasi dalam program Sambang Sekolah dan peresmian inovasi Moliska. Dinas Perpusip memandang komunitas ini sebagai ujung tombak dalam menjangkau wilayah pelosok yang sulit diakses oleh perpustakaan keliling milik pemerintah.
  • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud): Berkolaborasi dalam peningkatan budaya baca di sekolah-sekolah dan pengembangan kompetensi literasi guru serta siswa di lingkungan satuan pendidikan formal.
  • Pemerintah Desa: Terutama di Desa Bangkes, di mana komunitas ini berlokasi. Dukungan dari kepala desa dan tokoh masyarakat setempat menjadi kunci diterimanya program-program literasi oleh warga sekitar.

Kemitraan Nasional dan Pendanaan Hibah

Keandalan manajemen Compok Literasi telah menarik perhatian berbagai lembaga donor dan jaringan nasional. Beberapa kolaborasi penting yang tercatat antara lain:

  • Semua Murid Semua Guru : Membantu dana hibah untuk program Teman Literasi Sekolah tahun 2021. Yang dilaksanakan bersama Literasi Berkaki & Sedekah buku Indonesia.
  • Indorelawan: Melalui program Temali Project pada tahun 2021, Compok Literasi mendapatkan pendanaan untuk pelaksanaan Sambang Sekolah Batch 2.
  • Pustaka Bergerak Indonesia (PBI): Memberikan dukungan strategis bagi inisiatif motor listrik pustaka (Moliska) guna memperkuat ekosistem literasi berbasis komunitas di Madura.
  • Dirjen Kemendikbud dan LPDP: Terlibat dalam dukungan pendanaan dan legitimasi bagi inovasi-inovasi pendidikan yang lahir dari komunitas ini.

Sinergi ini menunjukkan bahwa Compok Literasi tidak bergerak dalam isolasi. Mereka mahir memanfaatkan sumber daya eksternal untuk memperkuat dampak gerakan internal mereka, sekaligus memberikan kontribusi balik bagi program-program pembangunan daerah.

Analisis Proyeksi Masa Depan dan Keberlanjutan

Menjelang satu dekade perjalanannya, Compok Literasi menghadapi tantangan baru dalam menjaga relevansi dan keberlanjutan gerakannya di tengah perubahan lanskap teknologi dan sosial. Namun, dengan fondasi manajemen yang kuat, organisasi ini memiliki peluang besar untuk terus berkembang.

Penguatan Literasi Digital dan Sains

Sejalan dengan visi pengembangan literasi global, Compok Literasi mulai memperluas fokusnya pada literasi digital dan sains. Inisiatif Moliska yang mengampanyekan energi terbarukan adalah langkah awal yang sangat positif. Ke depan, tantangan utama adalah membekali masyarakat desa dengan keterampilan digital yang sehat, termasuk kemampuan memverifikasi informasi dan memanfaatkan teknologi untuk peningkatan taraf hidup ekonomi.

Keberlanjutan Finansial dan Kemandirian Organisasi

Meskipun saat ini banyak bergantung pada kerelawanan dan hibah insidental, keberlangsungan jangka panjang memerlukan strategi finansial yang lebih mandiri. Pengembangan unit ekonomi kreatif berbasis literasi (misalnya penerbitan buku lokal atau pelatihan berbayar untuk sektor korporasi/pendidikan) dapat menjadi opsi strategis tanpa harus meninggalkan idealisme sosial.

Replikasi Model dan Skalabilitas

Model Sambang Sekolah yang telah teruji efektivitasnya selama enam generasi memiliki potensi besar untuk direplikasi di wilayah lain di luar Madura. Penyusunan modul manajemen komunitas yang sistematis berdasarkan pengalaman Compok Literasi dapat menjadi kontribusi berharga bagi literatur manajemen pendidikan berbasis masyarakat di Indonesia.

Literasi Sebagai Jantung Perubahan Sosial

Eksistensi Compok Literasi di Kabupaten Pamekasan telah membuktikan bahwa keterbatasan akses di wilayah rural bukanlah hambatan bagi munculnya inovasi pendidikan yang berkualitas. Dengan prinsip “Belajar, Kolaborasi, dan Jadi Solusi,” komunitas ini berhasil mengubah wajah literasi dari sekadar aktivitas membaca buku menjadi gerakan perubahan sosial yang nyata. Melalui implementasi manajemen strategis yang sistematis dan pengelolaan relawan yang humanis, Compok Literasi mampu menjaga konsistensi gerakannya di tengah dinamika zaman yang cepat berubah.

Dampak yang dihasilkan pun sangat luas, mulai dari peningkatan motivasi belajar ribuan siswa di pelosok Madura, hingga lahirnya relawan-relawan berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Kehadiran inovasi seperti Moliska dan program Sambang Sekolah menjadi bukti nyata bahwa kaum muda desa memiliki kapasitas intelektual dan manajerial untuk menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. Pada akhirnya, Compok Literasi adalah “rumah” di mana masa depan pendidikan Indonesia dirawat dengan penuh dedikasi, kolaborasi, dan harapan untuk selalu menjadi solusi bagi permasalahan umat.

https://compokliterasi.org

Yang ngurusin konten medianya Compok Literasi! share hal-hal menarik yang barangkali bisa menghibur kamu, syukur-syukur bisa bermanfaat :)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *