Habitus Littératie: Menangkap Literasi Sebagai Gaya Hidup

Habitus Littératie: Menangkap Literasi Sebagai Gaya Hidup

Di tengah berbagai persoalan literasi negeri ini, masih mungkinkah Literasi Sebagai Gaya Hidup?

Harus diakui bahwa kita hidup di masyarakat yang gemar beropini, tapi jarang benar-benar membaca, menalar, dan memahami. Belum lagi hasil riset UNESCO, PISA & angka-angka lain yang terus menghantui dunia literasi kita. Bunyinya selalu sama, perihal minat, budaya baca & akses yang miris. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan yang belum sepenuhnya bisa menjawab persoalan tersebut.

Dilain sisi, ada pandangan yang melihat para pecinta buku itu begitu angker—cara berpikir yang terlampau serius, berat dan tidak asyik. Bahkan untuk didekati saja serasa wingit.

Tampak urusan literasi ini selalu berdiri di atas menara gading—urusan akademisi dan serasa sulit dijangkau serta bukan urusan kaum proletar yang cari makan saja susah, apalagi sok-sokan beli buku dan ikut urusan literasi.

Semua angka-angka lembaga riset itu seakan mengesampingkan pergulatan yang terjadi di ruang nyata: Orang yang tidak punya waktu baca karena kerja 12 jam sehari, Orang yang tidak punya akses literasi sebab alasan ekonomi, Orang yang tidak punya motif jelas mengapa mereka harus baca.

Maka masalah literasi sejatinya bukan soal angka saja. Masalahnya mulai menyentuh perihal siapa yang punya akses, siapa yang punya waktu, dan siapa yang dianggap sah untuk bersuara.

Maka disinilah Compok Literasi mengambil posisi. Berangkat dari sebuah kesadaran bahwa kami bukan lembaga besar yang punya jawaban untuk semua masalah literasi. Anggota kami bukan sepenuhnya akademisi dan pembaca. Kami sekedar sekumpulan orang yang percaya, seruwet apapun masalah literasi, kehidupan literasi sudah terjadi di mana-mana, di luar kelas, di luar kampus, di luar buku.

Maka selama 9 tahun ini, Compok Literasi berupaya menjadi ruang: bertanya tanpa dihakimi, berbeda tanpa takut dimusuhi, untuk belajar tanpa harus jadi yang paling pintar dan yang paling berani mengakui ketidaktahuannya.

Sehingga untuk menanggapi semua permasalahan literasi yang ada itu, kami tidak memiliki jawaban mujarab untuk untuk menyelesaikan semua masalah itu. Yang pasti hanya ketika menanggapi pertanyaan “Di tengah berbagai persoalan literasi negeri ini, masih mungkinkah Literasi Sebagai Gaya Hidup?”

Jawabannya kami mungkin saja bisa jika literasi kita coba ajak kedalam ruang skena layaknya skena-skena lain. Itu patut kita coba!

Maksudnya, semisal kita menengok skena musik, fesyen, atau sepatu—yang membuatnya hidup bukan semata karena produknya, melainkan ekosistemnya: tempat berkumpul yang tidak kaku dengan bahasa yang khas mereka, ritual berulang, dan yang paling penting, tidak ada yang harus jadi “yang paling” untuk bisa terlibat.

Maka literasi pun bisa begitu, jika ia menjadi ruang aman di mana semua orang boleh mulai dari mana saja: dari tere liye, buku siksa neraka atau langsung pada cerita mahabrata. Tanpa takut dibilang “belum cukup literat” dan masih kurang bacaannya.

Seperti halnya dalam skena musik, orang tidak perlu dipaksa dengar musik karena musik sudah jadi bagian identitas mereka dan tidak perlu serasa ada beban moral ketika tidak mendengar musik, sebab ia dengan sadar atas pilihannya melakukan itu. Pierre Bourdieu menyebutnya habitus sebagai pola hidup yang terbentuk dari praktik berulang hingga jadi budaya.

Sehingga ketika literasi jadi habitus, ia bukan lagi kewajiban yang berat, tapi cara hidup yang natural. Dan literasi sebagai gaya hidup berarti menjadikan proses berfikir dan mencari tahu sebagai kebiasaan sehari-hari.

Maka menuju 1 dekade Compok Literasi (10 November 2027), kami meluncurkan kampanye “Habitus Littératie: Menangkap Literasi Sebagai Gaya Hidup”.

Kampanye ini tidak berbentuk acara seremonial, namun ia beroperasi sebagai modus untuk menangkap aktivitas literasi yang sudah terjadi selama ini dilingkungan kita khususnya di Kab. Pamekasan, baik itu di kampus, kafe, pasar, desa maupun kota serta  merayakannya sebagai bukti bahwa literasi bukan milik satu tempat atau satu kelas, tapi gaya hidup yang bisa dipilih siapa saja, di mana saja.

https://compokliterasi.org

Yang ngurusin konten medianya Compok Literasi! share hal-hal menarik yang barangkali bisa menghibur kamu, syukur-syukur bisa bermanfaat :)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *