| Catatan dari Townhall Meeting Relawan Sambang Sekolah 7

Minggu kali ini mungkin tampak seperti akhir pekan biasanya. Namun, pada pagi 27 September 2026 itu, kami mengajak seluruh relawan Sambang Sekolah 7 berkumpul di Hooki Kafe untuk sebuah kegiatan yang kami beri nama Town Hall Meeting.
Kegiatan ini kami rancang sebagai ruang temu raya sekaligus refleksi kolektif setelah tiga episode—setengah perjalan Sambang Sekolah 7 selesai dijalankan. Kami ingin berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, serta mendengarkan apa yang barangkali selama ini luput dari percakapan.
Joko Pinurbo pernah menulis, “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Bagi kami di Compok Literasi, setiap pencapaian, kecil ataupun besar juga layak dirayakan dan diapresiasi, meski hanya melalui secangkir kopi dan seutas senyum yang dalam kebersamaan.
Namun, pertemuan ini bukan semata-mata perayaan. Ia juga menjadi ruang untuk mengisi kembali semangat dan energi sebelum kami melanjutkan perjalanan ke episode berikutnya: melihat siapa saja yang masih gigih melaju, dan siapa yang memilih tinggal di tempat atau bahkan tertinggal dari rombongan.
Tidak semua kursi terisi pagi itu. Mereka yang hadir bahkan bisa dihitung dengan jari. Namun tak mematahkan semangat, kami memulai giat ini dengan sebuah game pembuka. Para relawan diminta membentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan tiga orang. Orang pertama bertugas menulis pembuka cerita. Orang kedua melanjutkannya sebagai isi. Sementara orang ketiga bertugas menulis bagian penutup.

Setelah setiap kelompok berhasil menyusun satu cerita utuh, kami meminta para penulis di setiap bagian bertukar tempat. Pembuka dari satu cerita bertemu isi dari cerita lain, lalu ditutup oleh akhir yang sama sekali berbeda.
Hasilnya, tentu saja, adalah cerita-cerita yang tidak saling bersambung. Kalimat pembuka yang semula bercerita pertemuan berkesan antar relawan. Tiba-tiba mendapatkan cerita seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi supir truk cabe, lalu ditutup rasa syukur yang sama seklai tidak nyambung dengan isi. Terdengar meyakinkan, lalu cerita mendadak bertemu konflik yang tidak masuk akal, sehingga cerita-cerita terdengar ganjil, beberapa lainnya begitu absurd hingga sulit dijelaskan.
Tak ayal, senyum dan tawa pecah ketika setiap kelompok membacakan hasil ceritanya. Permainan itu kami pilih sebagai pemanasan. Selain mencairkan suasana, ia menjadi pengantar menuju salah satu agenda dalam pertemuan ini, terkait kiat-kiat menulis catatan perjalanan.
Sebab, sebagai mana pelaksanaan Sambang Sekolah sebelumnya, pada akhir perjalanan kami selalu mengajak para relawan menuliskan pengalaman yang mereka lalui selama program. Catatan tersebut bukan sekadar dokumentasi kegiatan, melainkan ruang bagi setiap relawan untuk memaknai kembali perjumpaan, percakapan, kejutan, kesulitan, dan perubahan yang mereka alami.
Namun sebelum sampai ke sesi itu, ada percakapan lain yang perlu kami tuntaskan terlebih dahulu.
Empat Jawaban Pelik
Setelah suasana cukup mencair, kami masuk ke sesi refleksi kolektif. Sesi ini mengajak relawan untuk menjawab pertanyaan: Hal apa yang paling tidak disukai selama tiga episode ini, dan hal-hal apa saja yang luput dari ekspektasi? Kami membagikan kertas dan alat tulis, lalu meminta mereka menuliskan jawaban paling jujur secara anonim, karena rasanya terkadang lebih mudah menyampaikan sesuatu ketika seseorang tidak perlu mengkhawatirkan siapa yang akan membacanya, dan akan seperti apa peniliannya.
Selanjutnya tiap lembar jawaban itu kemudian kami acak dan bagikan kembali kepada para peserta dalam lingkaran. Lalu satu persatu mulai membaca jawaban-jawaban yang tertera dalam secarik kertas itu. Dari jawaban-jawaban tersebut, kami menemukan empat persoalan yang paling sering muncul: kedisiplinan waktu, pembagian peran yang belum terdefinisi dengan jelas, komunikasi yang masih pasif, serta komitmen terhadap pilihan menjadi relawan.
Diskusi pun bergulir. Setiap orang berusaha mengurai persoalan sekaligus menawarkan kemungkinan jalan keluar. Ada yang menyampaikan kritik, ada yang menambahkan pengalaman, dan ada pula yang mencoba melihat masalah dari sisi berbeda.
Perkara waktu menjadi salah satu misteri yang paling sulit kami pecahkan. Kami hampir kehabisan kata ketika membicarakan kebiasaan datang terlambat yang seolah terus diwariskan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Terkait persoalan ini, kami jadi ingat tentang penelitian lintas budaya yang dikutip dalam Buletin Psikologi Universitas Gadjah Mada menempatkan Indonesia pada posisi ke-30 dari 31 negara dalam indeks pace of life, berdasarkan kecepatan berjalan, ketepatan jam di ruang publik, dan kecepatan pelayanan pos. Temuan itu memang tidak dapat diterjemahkan sebagai gelar “negara dengan budaya paling ngaret”, tetapi setidaknya memperlihatkan bahwa hubungan kita dengan waktu cenderung lebih longgar, yang harusnya kebiasaan ini bisa kita benahi mulai dari lingkaran kecil ini. Namun entahlah.
Pembicaraan menjadi lebih konkret ketika beralih ke pembagian peran. Beberapa relawan mengaku masih kebingungan tentang apa yang harus dilakukan dan tanggung jawab apa yang perlu mereka ambil ketika mempersiapkan setiap episode. Sebab memang perlu disadari setiap relawan yang terlibat memiliki waktu dan pengetahuan awal yang berbeda, sehingga bagi yang tak bisa terlibat secara fisik, membuat mereka merasa tak memiliki ruang yang sama. Ini yang harus disadari tentunya.
Maka kemudian berbagai usulan dan kemungkinan jalan keluar muncul. Semisal, harapnnya kedepan sebelum episode dilaksanakan, setiap orang perlu mengetahui perannya dengan jelas: siapa mengurus perlengkapan, siapa berkomunikasi dengan sekolah, siapa memandu kegiatan, siapa mendokumentasikan perjalanan, dan siapa memastikan kebutuhan-kebutuhan kecil tidak terlewatkan.
Namun, di tengah usulan tersebut, seseorang melontarkan sebuah tanggapan yang membuat lingkaran itu kembali hening.
“Bagaimana kita akan membagi peran jika orang yang terlibat hanya itu-itu saja?”
Kalimat itu membawa diskusi menuju persoalan yang lebih dalam. Bukan lagi hanya tentang teknis pembagian tugas, melainkan tentang komitmen setiap orang terhadap niat yang pernah mereka bawa ketika memilih menjadi bagian dari program ini. Dari sana, muncul satu pertanyaan yang terasa sederhana, namun tidak mudah juga dijawab,“Apa sebenarnya makna menjadi relawan bagi kita?”
Menerka Nerka
Sejak awal, Sambang Sekolah dirancang untuk menghadirkan dampak 360 derajat. Manfaat program ini tidak hanya diarahkan kepada sekolah dan siswa, tetapi juga kepada para relawan yang terlibat di dalamnya.
Kami ingin setiap relawan pulang tidak hanya pulang membawa foto kegiatan atau cerita tentang tempat yang baru dikunjungi. Kami ingin mereka membawa pengalaman, pemahaman, pertemuan, dan pertanyaan-pertanyaan baru tentang dirinya sendiri. Artinya, sasaran penerima manfaat kegiatan ini bukan sekadar siswa di pelosok sana, melainkan juga diri kita sendiri.
Maka, penting rasanya bagi tiap relawan untuk mulai menerka peran apa yang bisa mereka ambil setelah berada di sini dan memutuskan terlibat bersama dalam program ini. Adapun bagi mereka yang kurang aktif atau sekadar datang dan bahkan pergi, kami pada akhirnya memahami karena ini tentang kerelaan. Pun dalam kata “relawan” bertumbuh dari kata “rela”.
Namun, harusnya kerelaan tidak berhenti pada kesediaan mendaftarkan diri sahaja. Rasanya ia perlu menjelma menjadi kesediaan menghibahkan waktu, kerelaan mengambil peran, membuka diri untuk belajar bersama, serta menjaga komitmen serta tanggung jawab yang telah dipilih.
Kami pun tidak menutup mata dan sepenuhnya memahami, bahwa setiap orang memiliki kesibukan, kemampuan, dan batas yang berbeda. Kerelawanan juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghakimi mereka yang sedang tidak mampu berjalan secepat yang lain.
Semisal kita sepakati ini sebagaimana kerelaaan—mungkin ia bersifat pribadi. Namun, ia akan menyangkut dengan yang lainnya dalam pilihan ini.
Sehingga mungkin di situlah letak peliknya kerelawanan, kita tidak pernah benar-benar dapat mengukur kerelaan seseorang hanya dari kehadiran, kontribusi atau pernyataan niatnya. Kerelaan hanya bisa diterka, sebab ia berdiam di ruang yang paling pribadi tiap-tiap diri pelakunya.
Tetapi yang pasti kita bisa lihat bentuknya dari tindakan yang terjadi—pada kesediaan untuk tetap memberi kabar ketika berhalangan, mengambil bagian ketika dibutuhkan, menuntaskan tanggung jawab, serta kembali merapat setelah sempat menjauh.
Sehingga, meski kita tak dapat menemui makna menjadi relawan pada hari seseorang mendaftarkan diri, namun ia dapat terbentuk berkali-kali saat niat bertemu keterbatasan. Hingga pada akhirnya, yang kami percayai dari proses perjalanan ini, masing-masing dari kita mungkin akan menemukan maknanya setelah mengalaminya.
Kami cukup lama hanyut dalam diskusi tersebut. Pada akhirnya, percakapan harus dihentikan karena waktu yang terbatas. Kami menyudahinya dengan membawa jawaban yang terasa belum sepenuhnya tuntas—atau mungkin memang tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar tuntas.

Menulis dan Tetap Mendayung
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi kiat menulis catatan perjalanan yang dipandu langsung oleh Baiturrahman, Pemimpin Redaksi situs web Compok Literasi.
Dalam sesi ini, para relawan diajak memahami bahwa catatan perjalanan tidak harus berisi urutan kegiatan sejak berangkat hingga pulang. Tulisan dapat dimulai dari peristiwa kecil, percakapan yang membekas, perasaan yang berubah, atau pertanyaan yang terus terbawa setelah kegiatan selesai.
Melalui tulisan, pengalaman yang semula terasa biasa dapat dilihat dari sudut berbeda. Hal-hal yang luput ketika kegiatan berlangsung bisa muncul kembali. Sebuah perjumpaan singkat bahkan dapat menemukan maknanya setelah dituliskan.
Seluruh peserta menyimak sesi tersebut dengan antusias. Sesekali tawa pecah ketika pemateri menyelipkan punchline jenaka di sela-sela penjelasannya.
Suasana pun kembali menjadi lebih cair. Para peserta seolah sempat melupakan bahwa beberapa saat sebelumnya kami baru saja membicarakan hal-hal berat dan memusingkan dari tiga episode yang telah dilalui.
Namun, bagian yang paling menghangatkan justru tiba disesi akhir. Kami membagikan kembali secarik kertas. Kali ini bukan untuk menuliskan kritik atau kekecewaan, melainkan apresiasi dan ucapan terima kasih.
Setelah usai menulis, kertas-kertas itu kembali kami bagikan secara acak, satu per satu dari kami membacakan isinya. Ada ucapan sederhana, ada pengakuan yang selama ini tidak sempat disampaikan, dan ada kalimat-kalimat yang membuat kami terdiam lebih lama. Salah satunya berbunyi:

“Perahu dayung tidak akan pernah ke mana-mana jika di antara para pendayung ada yang berhenti bergerak. Itu adalah pikiran saya sebelum datang pada pertemuan hari ini. Sekarang, semuanya berbeda. Dayung-dayung yang tersisa tetap bergerak, dengan batas kemampuan yang ada. Terima kasih untuk semuanya.”
Kalimat itu terasa seperti merangkum pertemuan kami pagi itu. Namun berbagai ucapan lain juga tak kalah menyentuh jiwa.
Kami menutup hari ini dengan hati yang luluh dan penuh puji syukur atas setiap hal yang terjadi. Sementara itu, ketidakhadiran beberapa orang justru meninggalkan rasa penasaran. Cerita apa yang akan mereka sampaikan seandainya pagi itu mereka berada di dalam lingkaran? Pengalaman apa yang mereka bawa dari tiga episode Sambang Sekolah 7? Hal apa yang membuat mereka bertahan, menjauh, berhenti, atau mungkin sekadar mengambil napas lebih panjang?
Kami berharap mereka membaca catatan ini. Kelak, ketika waktunya memungkinkan, semoga mereka bersedia kembali duduk bersama dan menceritakan segala hal yang telah dialami. Tidak perlu cerita yang sempurna. Tidak harus jawaban yang tuntas.
Sebab pada akhirnya, Sambang Sekolah bukan hanya perjalanan menuju sekolah-sekolah yang kami sambangi. Ia juga merupakan perjalanan ke dalam diri masing-masing, untuk menerka seberapa jauh kerelaan dapat membawa kita pada diri sendiri.